PENGANTAR PENDIDIKAN SEMESTER 1
Bab I
Hakikat Manusia Dan Pengembangannya
|
Pengertian
Sifat Hakikat Manusia
Sifat Hakikat
Manusia diartikan sebagai ciri – ciri karakteristik, yang secara prinsipil
(bukan hanya gradual) membedakan manusia dari hewan.
Wujud
Sifat Hakikat Manusia
Kemampuan
menyadari diri
Kemampuan
bereksistensi
Pemilikan
kata hati
Moral
Kemampuan
bertanggung jawab
Rasa
kebebasan (kemerdekaan)
Kewajiban
dan hak
Kemampuan
menghayati kebahagiaan
Dimensi –
dimensi Hakikat Manusia
Dimensi Keindividualan
Dimensi
Kesosialan
Dimensi
Kesusilaan
pemahaman dan
pelaksanaan nilai
Dimensi
Keberagaman
Pengembangan
Dimensi Hakikat Manusia
Pengembangan
yang utuh
Dari wujud
dimensinya
Dari arah
pengembangannya
Pengembangan
yang tidak utuh
Manusia
Indonesia Seutuhnya
nManusia
Indonesia seutuhnya tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah ataupun kepuasaan
batiniah, akan tetapi keseimbangan antara keduanya
|
BAB II
Pengertian dan unsur – unsur pendidikan
A. Pengertian
pendidikan
1) Batasan pendidikan
Berdasarkan fungsinya :
a. Pendidikan sebagai
proses transformasi budaya
Sebagai kegiatan pewarisan budaya dari generasi ke
generasi
b. Pendidikan sebagai
proses pembentukan pribadi
Sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan
sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik.
c. Pendidikan sebagai
proses penyiapan warga negara
Sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk
membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.
d. Pendidikan sebagai
penyiapan tenaga kerja
Kegiatan membimbing peserta didik sehingga
memiliki dasar untuk bekerja.
e. Definisi pendidikan
menurut GBHN
GBHN 1988 (BP 7 pusat,1990; 105)
2) Tujuan dan proses
pendidikan
a. Tujuan memiliki 2
fungsi:
- Memberikan arah kepada
segenap kegiatan pendidikan.
- Sesuatu yang ingin
dicapai segenap kegiatan pendidikan.
b. Proses pendidikan
Kegiatan memobilisasi segenap komponen oleh
pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan.
3) Konsep Pendidikan
Sepanjang Hayat (SPH)
Konsep SPH didefinisikan sebagai tujuan atau ide
formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan.
4) Kemandirian dalam
belajar
Sebagai aktivitas belajar yang berlangsung lebih
didorong oleh kemauan sendiri.
B. Unsur – unsur
pendidikan
1) Peserta didik
2) Pendidik
3) Interaksi edukatif
antara peserta didik dan pendidik
4) Materi atau isi
pendidikan
5) Konteks yang
mempengaruhi pendidikan.
C. Pendidikan
sebagai sistem
1) Pengertian sistem
Himpunan komponen yang saling berkaitan yang
bersama – sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan. (Tatang Amirin 1992;10)
2) Komponen dan saling berhubungan antara komponen dalam sistem
pendidikan
- Sistem baru
merupakan masukan mentah
- Guru atau
tenaga nnon guru
- Corak
buadaya dan kondisi ekonomi masyarakat sekitar
3) Hubungan sistem
pendidikan dengan sistem lain dan perubahan kedudukan
- Supra sistem, masyarakat
- Sistem, sistem
ekonomi, pendidikan, politik
- Subsistem, pendidikan
nonformal, formal, informal
- Sub – sub sistem, SD,
SM, PT
BAB III
LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN SERTA
PENERAPANNYA
A. Landasan pendidikan
Pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlangsung terus tak terputus
dari generasi ke generasi di mana pun di dunia ini.
1. Landasan filosofis
Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat
filsafat(falsafat, falsafah). Kata filsafat (philosophy) bersumber dari bahasa
Yunani, philein berarti mencintai,dan sophos/sophis berartui hikmah, arif atau
bijaksana. Filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh dan konseptual
yang menghasilkan konsepsi-konsepsi mengenai kehidupan dan dunia.
Konsep-konsep
filosofis tentang kehidupan manusia dan dunianya bersumber dari 2 faktor,yaitu:
(i)Religi dan
etika yang bertumpu pada keyakinan
(ii)Ilmu pengetahuan yang mengandalkan penalaran.filsafat berada di antara
keduanya: kawasan seluas dengan religi,namun lebih dekat dengan ilmu
pengetahuan karena filsafat timbul dari keraguan dan karena mengandalkan akal
manusia.(Redja Mudyaharjo,et.al.,1992:126-134)
Penggunaan istilah filsafat dalam 2 pendekatan,yakni:
(1) Filsafat sebagai
kelanjutan dari berpikir ilmiah yang dapat dilakukan oleh setiap orang serta
sangat bermanfa’at dalam memberi makna kepada ilmu pengetahuannya itu.
(2) Filsafat sebagai kajian
khusus yang formal,yang mencakup logika, epistemology (tentang benar dan
salah), etika (tentang baik dan buruk), estetika (tentang indah dan jelek),
metafisika (tentang hakikat yang “ada”,termasuk akal itu sendiri) serta sosial
dan politik (filsafat pemerintahan)
a. Pengertian tentang Landasan Filosofis
Terdapat kaitan yang erat
antara pendidikan dan filsafat karena filsafat mencoba merumuskan citra tentan
manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra itu.
Peranan filsafat dalam bidang pendidikan tersebut berkaitan dengan hasil kajian
antara lain tentang:
(a) keberadaan dan
kedudukan manusia sebagai makhluk di dunia ini,seperti yang disimpulkan sebagai
zoon politicoon, homo sapiens, animal educandum, dan sebagainya.
(b) Masyarakat dan
kebudayaannya.
(c) Keterbatasan manusia
sebagai makhluk hidup yang banyak menghadapi tantangan
(d) Perlunya landasan
pemikiran dalam pekerjaan pendidikan,utamanya filsafat pendidikan(Wayan
Ardhana.1986:modul 1/9)
Wayan Ardhana dkk mengemukakan bahwa aliran-aliran filsafat itu bukan hanya
mempengaruhi pendidikan tetapi juga telah melahirkan aliran filsafat
pendidikan, seperti:
(a) Idealisme
(b) Realisme
(c) Perenialisme
(d) Esensialisme
(e) Pragmatisme
(f)
Eksistensialisme
Naturalisme merupakan aliran filsafat yang menganggap segala kenyataan yang
bisa ditangkap oleh panca indera sebagai kebenaran yang sebenarnya.
Idealisme menegaskan bahwa hakikat kenyataan adalah ide sebagai gagasan
kejiwaan.
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mengemukakan bahwa segala
sesuatu harus dinilai dari segi nilai kegunaan praktis.
John dewey salah seorang tokoh pragmatisme secara eksperimental melalui
lima tahap:
1) Situasi tak tentu, yakni
timbulnya situasi ketegangan di dalam pengalaman yang perlu dijabarkan secara
spesifik.
2) Diagnosis, Yakni
mempertajam masalah termasuk perkiraan factor penyebabnya.
3) Hipotesis, yakni
penemuan gagasan yang diperkirakan dapat mengatasi masalah.
4) Pengujian hipotesis,
yakni pelaksanaan berbagai hipotesis dan membandingkan hasilnya serta
implikasinya masing-masing jika dipraktekkan.
5) Evaluasi yakni
mempertimbangkan hasilnya setelah hipotesis terbaik dilaksanakan.
Empat mazhab filsafat pendidikan yang besar
pengaruhnya dalam pemikiran dan penyelenggaraan pendidikan yaitu:
1)Essensialisme
Merupakan mazhab filsafat yang menerapkan prinsip idealisme dan realisme
secara eklektis.Mazhab essensialisme mulai lebih dominan di eropa sejak adanya
semacam pertaentangan di antara para pendidik sehingga mulai timbul pemisahan
antara pelajaran-pelajaran teoritik yang memerdekakan akal dengan
pelajaran-pelajaran praktek.
2)Perenialisme
Perenialisme merupakn mazhab filsafat pendidikan yang yang kurikulumnya
berisi materi yang konstan atau perennial.
3)Pragmatisme dan progresivisme
Progresivisme atau gerakan pendidikan progresif mengembangkan teori
pendidikan yang mendasarkan diri pada beberapa prinsip, antara lain sebagai
berikut:
a) Anak harus bebas untuk
dapat berkembang secara wajar
b) Pengalaman langsung
merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar.
c) Guru harus menjadi
seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.
d) Harus ada kerjasama
sekolah dan rumah.
e) Sekolah progresif harus
merupakan suatu laboratorium untuk melakukan reformasi pedagogis dan
eksperimentasi.
4)Rekonstruksionisme
Mazhab rekonstruksionisme
adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam
pendidikan.
b. Pancasila sebagai
landasan filosofis sistem pendidikan nasional(sisdiknas)
Pancasila sebagai sumber
dari segala gagasan mengenai wujud manusia dan masyarakat yang dianggap
baik,sumber dari segala sumber nilai yang menjadi pangkal serta muara dari
setiap keputusan dan tindakan dalam pendidikan,denfgan kata lain:pancasila
sebagai sumber system nilai dalam pendidikan.
Bagi bidang
pendidikan, hal ini sangat penting karena akan terdapat kepastian nilai yang
menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan.Petunjuk pengalaman pancasila
tersebut dapat pula disebut sebagai butir nilai pancasila sebagai berikut:
1) Ketuhanan yang maha esa
2) Kemanusiaan yang adil dan beradab
3) Persatuan Indonesia
4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia
2)
Landasan sosiologis
a)Pengertian
tentang landasan sosiologis
Sosiologi pendidikan merupaka analisis ilmiah tentang proses sosial dan
pola-pola interaksi sosial di dalam system pendidikan.Ruang lingkup yang
dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi 4 bidang:
1) Hubungan system pendidikan dengan aspek
masyarakat lain
2) Hubungan kemanusiaan di sekolah
3) Pengaruh sosial pada perilaku
anggotanya
4) sekolah dalam komunitas,yang
mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam
komunitasnya
b)Masyarakat Indonesia sebagai landasan sosiologis
sistem pendididkan nasional(sisdiknas)
Masyarakat
sebagai kesatuan hidup meiliki ciri utama antara lain:
a) Ada interaksi antara warga-warganya
b) Pola tingkah laku warganya diatur oleh
adat istiadat,norma-norma hukum dan aturan-aturan yang khas
c) Ada rasa identitas kuat yang mengikat
pada warganya
3.
Landasan Kultural
a) Pengertian tentang landasan kultural
Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia
beserta hasil budi dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan
b) Kebudayaan nasional sebagai landasan system pendidikan nasional(sisidiknas)
Yang dimaksud dengan sisdinas adalah pendididkan
yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia.Puncak-puncak kebudayaan
nusantara dan yang diterima secara nasional disebut kebudayaan nasional.
4. Landasan Psikologis
Pemahaman
peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, merupakan salah
satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan
psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan. Peserta
didik selalu berada dalam proses perubahan, baik karena pertumbuhan maupun
perkembangan. pertumbuhan terutama karena pengaruh factor internal sebagai
akibat kematangan dan proses pendewasaan, sedangkan perkembangan terutama
karena pengaruh lingkungan. Salah satu aspek dari pengembangan manusia
seutuhnya adalah yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian, utamanya agar
dapat diwujudkan kepribadian yang mantap dan mandiri.
5)
Landasan ilmiah dan teknologis
Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan
teknologi(iptek)mempunyai kaitan yang sangat erat.Pendidikan berperan sangat
penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek.Dari sisi lain,setiap
perkembangan iptek harus segera diakomodasi olehpendidika yakni dengan segera
memasukkan hasil pengembangan iptek itu ke dalam isi bahan ajaran.Pendidikan
sangat dipengarhi oleh cabang-cabang iptek utamanya ilmu-ilmu perilaku (psikologi,sosiologi,antropologi)
a)Pengertian
tentang ilmu pengetahuan dan teknologi(IPTEK)
Pengetahuan (knowledge) adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui
berbagai cara penginderaan terhadap fakta, penalaran (rasio), intuisi dan
wahyu. Pengetahuan yang memenuhi kriteria dari segi ontologis, epistemologis,
dan aksiologis secara konsekuen dan penuh disiplin biasa disebut ilmu ataupun
ilmu pengetahuan.Ilmu terapan terutama digunakan untuk mengatasi masalah dan
memajukan kesejahteraan manusia.hasil dari ilmu terapan itu harus
dialihragamkan (ditransformasikan)menjadi bahan,alat,atau prosedur
kerja;kegiatan ini biasa disebut pengembangan(development).Tindak lanjut dan
hasil kegiatan pengembangan itulah yang disebut teknologi.
b)Perkembangan
IPTEK sebagai landasan ilmiah
Iptek merupakan
salah satu hasil dari usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih
baik,yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia.Perkembangan ilmu
tersebut meliputiaspek ontologis,epistemologis maupun aksiologis,serta makin
lama perkembangan itu makin dipercepat.
B. Asas-asas pokok pendidikan
1)Asas Tut
Wuri Handayani
Pada awalnya merupakan salah satu dari “asas 1922” yakni tujuh buah asas
dari perguruan nasional Taman Siswa.
2)Asas
belajar sepanjang hayat
Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang
dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education)
3)Asas
kemandirian dalam belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar,sedini mungkin dikembangkan kemandirian
dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu siap
untuk ulur tangan apabila diperlukan. Perwujudan asas kemandirian dalam belajar
akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motivator, di
samping peran-peran lain: informator, organisator, dsb.
BAB IV
A. Perkiraan
Masyarakat Masa Depan
Pendidikan di Indonesia
dilaksanakan berdasarkan latar kemasyarakatan dan kebudayaan Indonesia,
landasan sosio-kultural ini merupakan salah satu dasar utama dalam menentukan
arah program pendidikan. Selain itu pendidikan juga berfungsi sebagai pilar
utama pelestarian dan pengembangan kebudayaan setiap masyarakat sehingga
pendidikan dan latar sosio cultural saling berpengaruh. Perkembangan masyarakat
serta kebudayaannya semakin mengalami percepatan yang disebabkan oleh beberapa
hal berikut :
1. Kecenderungan
Globalisasi
Dengan kata lain menjadikan
dunia sebagai satu keutuhan, satu kesatuan.
Menurut Emil Salim (1990, 8 – 9) terdapat empat
bidang kekuatan gelombang globalisasi yang paling kuat dan menonjol daya
dobraknya. Beberapa kecenderungan globalisasi dari keempat bidang tersebut
adalah :
a. Bidang IPTEK
Bidang IPTEK mengalami perkembangan yang semakin
dipercepat, utamanya dengan penggunaan berbagai teknologi canggih, seperti
komputer dan satelit.
b. Bidang Ekonomi
Bidang ini mengarah ke ekonomi regional atau
ekonomi global tanpa mengenal batas – batas negara.
c. Bidang Lingkungan Hidup
Bidang ini telah menjadi bahan pembicaraan dalam
berbagai pertemuan internasional, yang mencapai puncaknya pada Konferensi
Tingkat Tinggi (KTT) Bumi.
d. Bidang Pendidikan
Bidang pendidikan berkaitan dengan identitas
bangsa, termasuk budaya nasional dan budaya – budaya nusantara.
Kecenderungan
globalisasi juga tampak dalam bidang politik, hukum dan hak – hak asasi
manusia, dan paham demokrasi.
Sebagai
contoh, pelaksanaan pemilihan umum di suatu negara akan dipantau langsung oleh
berbagai negara dengan mengirim para peninjau baik sebelum atau saat pemilu itu
berlangsung. Oleh karena itu, banyak gagasan dalam menghadapi globalisasi yang
menekankan perlunya berpikir dan berwawasan global namun harus tetap
menyesuaikan keputusan dan tindakan dengan keadaan nyata disekitarnya.
2. Perkembangan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Globalisasi perkembangan
IPTEK dapat berdampak positif dan negative tergantung pada kesiapan bangsa dan
individu itu sendiri dalam menerima informasi teknologi tersebut. Segi
positifnya adalah memudahkan untuk mengikuti perkembangan IPTEK di dunia hingga
dapat mengaplikasikannya untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Sedangkan segi
negativenya adalah akan timbul masalah – masalah baru apabila kondisi bangsa
dan sosio budayanya belum mampu menerimanya.
Perkembangan Iptek terkait
dengan beberapa landasan, yaitu :
- Landasan Ontologis
Objek dari landasan ini merupakan pengalaman atau
pengetahuan yang didapat melalui indra karena telah ditemukan alat atau bagian
yang dapat membantu indra tersebut.
- Landasan Epistemologis
Cara yang dipakai untuk memperoleh pengetahuan
adalah ilmu pengetahuan yang telah mengalami perkembangan seiring dengan waktu.
- Landasan Aksiologis
Landasan ini menekankan pada tujuan Iptek itu
sendiri yang tertuju pada kesejahteraan masyarakat.
Terdapat serangkaian kegiatan pengembangan dan
pemanfaatan iptek, yakni :
(1) Penelitian dasar ( basic research )
(2) Penelitian terapan ( applied research
)
(3) Pengembangan teknologi ( technological
depelopment )
(4) Penerapan teknologi
Biasanya langkah – langkah
tersebut diikuti oleh langkah evaluasi, apakah hasil iptek tersebut dapat
diterima masyarakat, umpamanya dari segi etis-politis-relegius dan sebagainya.
Karena perkembangan iptek sangat cepat maka penilaian tersebut dimulai sedini
mungkin, dimulai drngan pengarahan awal, dilanjutkan dengan pemantauan selama
rangkaian kegiatan itu berlansung, dan akhirnya penilaian akhir seperti
tersebut diatas. Dan telah dikemukakan bahwa globalisasi perkembangan iptek
tersebut merupakan peluang dan tantangan. Terbuka peluang bagi kita untuk
mengikuti perkembangan iptek tersebut secara dini. Sebaliknya apabila masyarakat
belum siap menerimanya, maka akan berubah menjadi tantangan.
Perkembangan Iptek ini dapat terhambat apabila
terjadi kesenjangan antara masyarakat ilmuwan dan masyarakat terdidik
nonilmuwan sehingga masyarakat masa depan diupayakan memiliki wawasan yang luas
agar dapat berjalan beriringan dengan kedua golongan tersebut.
3. Perkembangan Arus
Komunikasi yang Semakin Padat dan Cepat
Salah satu perkembangan
IPTEK yang luar biasa adalah yang berkaitan dengan informasi dan komunikasi,
computer dan sebagainya. Pemakaian satelit komunikasi dan computer telah
membuka peluang surat elektronik, surat kabar elektronik, siaran televisi
secara langsung dari satelit ke rumah – rumah.
Pada umumnya bentuk
komunikasi langsung dikenal sebagai komunikasi antarpribadi, baik komunikasi
antara dua orang ataupun dalam kelompok kecil dengan ciri pokok adanya dialog
diantara pihak – pihak yang berkomunikasi. Sedangkan komunikasi yang bercirikan
monolog adalah komunikasi public, yang dibedakan atas komunikasi pembicara –
pendengar, contohnya pada suatu rapat umum dan komunikasi massa, seperti surat
kabar, radio, televisi, dan sebagainya yang menyangkut penerima yang sangat
luas. Proses komunikasi meliputi beberapa unsur dasar, yaitu :
- Sumber pesan, seperti harapan, gagasan, perasaan, atau perilaku yang diinginkan oleh penerima pesan.
- Penyandian yakni pengubahan atau penerjemahan isi pesan ke dalam bentuk yang serasi dengan alat pengiriman pesan.
- Transmisi (pengiriman) pesan.
- Saluran
- Pembuka sandian yakni penerjemahan kembali apa yang diterima ke dalam isi pesan oleh penerima.
- Reaksi internal penerima sesuai pemahaman pesan yang diterimanya.
- Gangguan atau hambatan yang dapat terjadi pada semua unsur dasar lainnya.
Perkembangan komunikasi
dengan arus informasi yang makin padat dan akan dipercepat di masa depan,
mencakup keseluruhan unsur – unsur dalam proses komunikasi tersebut. Contohnya,
sejak diluncurkannya Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa pada
tahun 1976 dan ditopang oleh penggunaan antenna parabola, pengguna komputer, dan
lain – lain, maka arus informasi yang padat dan cepat telah menjangkau seluruh
pelosok tanah air. Telah sering diadakan siaran langsung dari seluruh penjuru
dunia tentang berbagai peristiwa penting yang terjadi ataupun wawancara jarak
jauh melalui televisi. Hal itu mau tak mau memaksa kita mempunyai konsep baru
tentang berita, yakni apa yang telah terjadi tetapi apa yang sedang terjadi.
Meskipun teknologi
komunikasi dan informasi telah mengalami perkembangan yang cepat namun belum
merata pada semua negara. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya untuk
merebut teknologi tersebut. Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan
dalam upaya – upaya tersebut, yaitu :
1. Pengembangan teknologi
satelit yang mutakhir.
2. Penggunaan teknologi
digital yang mampu menyalurkan signal yang beragam seperti, suara, video, dan
data.
3. Penggunaan VDT (video
display terminal) dalam media cetak, surat kabar elektronik, dan sistem cepat
jarak jauh.
4. Penggunaan DBS (direct
broadcast satellite) dalam media elektronik.
Kesemuanya itu akan mempercepat terwujudnya suatu
masyarakat informasi sebagai masyarakat masa depan.
- Peningkatan Layanan Profesional
Salah satu ciri penting
masyarakat masa depan adalah meningkatnya kebutuhan layanan professional dalam
berbagai bidang kehidupan manusia. Dengan perkembangan IPTEK yang semakin cepat
maka anggota masyarakat masa depan akan memiliki wawasan, pengetahuan dan daya
kritis yang semakin tinggi. Oleh karena itu, manusia masa depan tersebut
semakin menuntut suatu kualitas hidup yang lebih baik termasuk berbagai layanan
yang dibutuhkan.
Layanan yang diberikan oleh
pemangku profesi tertentu atau layanan professional akan semakin penting untuk
kebutuhan masyarakat tersebut. Profesi adalah suatu lapangan pekerjaan dengan
persyaratan tertentu, suatu vokasi khusus yang mempunyai ciri – ciri : expertise
(keahlian), responsibility (tanggung jawab), corporateness
(kesejawatan).
Robert W. Richey (1974) dan
D. Westby – Gibson (1965) mengemukakan beberapa ciri profesi, yaitu :
a. Lebih mengutamakan
pelayanan kemanusiaan yang ideal dan layanan itu memperoleh pelayanan
masyarakat.
b. Terdapat sekumpulan
bidang ilmu yang menjadi landasan dari sejumlah teknik dan prosedur yang unik.
c. Terdapat suatu mekanisme
saringan berdasarkan kualifikasi tertentu, hanya yang kompeten yang
diperbolehkan melaksanakan layanan profesi itu.
d. Terdapat kode etik suatu
profesi mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap, dan cara kerja dari
anggotanya.
e. Terdapat organisasi
profesi yang melindungi kepentingan dan kesejahteraan anggotanya.
f. Pemangku profesi
memangdang profesinya sebagai karier hidup dan menjadi seorang anggota yang
relatif permanent dan untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya sendiri.
Diperlukan suatu perjuangan
panjang yang terus – menerus dan bertahap melalui semi professional penuh.
Howsan, et.al. (1976 : 7 – 9) mengemukakan lima lingkaran konsentris dari titik
tengah berturut – turut :
1. profesi tertua yakni
hukum, kesehatan, teologi, dan dosen.
2. profesi baru yakni
arsitektur, insinyur, (engineering) dan optometri.
3. pekerjaan yang segera
diakui sebagai profesi (emergent professions).
4. Semi profesional.
5. pekerjaan biasa yang
tidak berusaha memperoleh status profesional.
Mc. Cully (1969, dari T.
Raka Joni, 1981 : 5 – 8) mengemukakan enam tahap dalam proses profesionalisme,
yaitu :
a. Penetapan dan pemantapan
layanan unik yang diberikan oleh suatu profesi sehingga memperoleh pengakuan
masyarakat dan pemerintah.
b. Penyepakatan antara
kelompok profesi dan lembaga pendidikan prajabatan tentang standar kompetensi
minimal yang harus dimiliki oleh setiap calon profesi tersebut.
c. Akreditasi, yakni
pengakuan resmi tentang kelayakan suatu program pendidikan prajabatan yang
ditugasi menghasilkan calon tenaga profesi yang bersangkutan.
d. Mekanisme sertifikasi
dan pemberian izin praktik.
e. Secar perseorangan
ataupun kelompok, pemangku profesi bertanggung jawab penuh terhadap segala
aspek pelaksanaan tugasnya yakni kebebasan mengambil keputusan secara
professional.
f. Kelompok profesional
memiliki kode etik yang berfungsi ganda, yakni :
1. perlindungan terhadap
masyarakat agar memperoleh layanan yang bermutu.
2. perlindungan dan pedoman
peningkatan kualitas anggota.
Masyarakat masa depan dengan
kecenderungan globalisasi, utamanya dalam perkembangan IPTEK dan arus informasi
yang makin dipercepat, akan menjadi masyarakat yang menuntut kualitas tenaga
profesional yang optimal.
Sehubungan dengan
kecenderungan permasalahan manusia yang bersifat holistic dan memerlukan
penanganan multidisiplin, maka tuntutan layanan profesional semakin tinggi
pula.
B. Upaya Pendidikan
dalam Mengantisipasi Masa Depan
Arus informasi yang cepat,
perkembangan Iptek, dan globalisasi yang sangat luas merupakan tantangan besar
bagi yang mampu menghadapi tantangan tersebut. Pendidikan berkewajiban
mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan di masa yang akan datang
sehingga melahirkan manusia yang berwawasan luas di bidang teknologi, kemampuan
pikir, dan secara keseluruhan disebut berwawasan luas pada bidang kebudayaan.
Pengembangan pendidikan pada
masyarakat yang sedang berubah terdiri dari 2 pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan sistematis
Pengembangan pendidikan
dilakukan secara teratur melalui perencanaan yang bertahap.
2. Pendekatan sistematik
Pendekatan ini dilakukan
dengan proses berpikir yang mengaitkan secara fungsional semua aspek dalam
pembaruan belajar.
Keberhasilan antisipasi terhadap masa depan pada
akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia yang dihasilkan oleh pendidikan.
1. Tuntutan bagi Manusia Masa
Depan
Tantangan – tantangan yang akan dihadapi oleh
masyarakat akan datang akan menjadi sangat berat sehingga diperlukan wawasan
yang luas dan daya adaptasi yang tinggi hingga manusia Indonesia dapat
menyesuaikan diri di masa yang akan datang.
Dalam UU RI No. 2/1989 telah ditetapkan rumusan
tujuan pendidikan di Indonesia yang juga dianggap sebagai profil manusia di
masa depan. Contohnya adalah ditetapkannya wajib belajar 9 tahun yang
diharapkan dapat menjadi bekal manusia Indonesia di masa depan yang meliputi
pengembangan pribadi manusia dan penguasaan Iptek.
Tuntutan manusia Indonesia di masa yang akan
datang setelah diarahkan pada pembekalan yang diperlukan untuk menyesuaikan
diri dengan keadaan di masa yang akan datang adalah :
a. Ketanggapan terhadap berbagai masalah politik,
social budaya, dan lingkungan.
b. Kreativitas dalam memecahkan masalah.
c. Efisiensi dan etos kerja yang tinggi.
2. Upaya Mengantisipasi Masa Depan
Berdasarkan perkiraan
tentang masyarakat masa depan serta profil manusia yang di harapkan berhasil di
dalam masyarakat itu maka perlu dikaji berbagai upaya masa kini yang
memungkinkan mewujudkan manusia masa depan tersebut.
Dalam penjelasan UU RI NO.2
Tahun 1989 dikemukakan sebagai berikut : “ Dalam rangka pelaksanaan pembangunan
nasional sebagai pengamalan pancasila di bidang pendidikan, maka pendidikan
nasional mengusahakan : pertama, pembentukan manusia pancasila sebagai manusia
pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri, dan kedua, pemberian
dukungan bagi dan mampu mandiri, dan kedua, pemberian dukungan bagi
perkembangan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang terwujud dalam
pertahanan nasional yang tangguh ( UU , 1992 : 24 ) kajian tentang upaya
mengantisipasi masa depan melami pendidikan akan di arahkan pada :
a. Aspek yang paling berperan
dalam individu untuk memberi arah antisipasi tersebut yakni nilai dan sikap.
b. Pengembangan budaya dan
sarana kehidupan.
c. Tentang pendidikan itu
sendiri.
Ketiga hal tersebut merupakan titik strategi dalam
mengantisipasi masa depan tersebut.
a. Perubahan Nilai dan Sikap
Sebagai kemampuan internal,
sikap akan sangat berperan menentukan apabila terbuka, kerungkunan berbagai
alternative untuk bertindak. Dalam sikap dapat di bedakan 3 aspek, yaitu :
- Aspek kogntif seperti pemahaman tentang objek sikap.
- Aspek Afektif yang sangat di oengaruhi oleh nilai dan dapat sangat subjektif.
- Aspek fonatif yang mendorong untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap objek tersebut.
Ketiga aspek tersebut pada dasarnya terpadu dalam
membentuk sikap seseorang.
Taksonomi tujuan pendidikan
dalam tanah afektif tersebut dikemukakan ntara lain oleh Krathwohl, Bloom, dan
Masia ( 1964, dari Bloom, Hastings, dan Madaus, 1971 : 229 ) yang menekankan
proses internalisasi yang rendah sampai yang tertinggi sebagai berikut :
- Penerimaan ( receiving, attendiung )
- Penanggapan ( responding )
- Penilaian, peyakinan ( vaiuing )
- Pengorganisasian, konseptualisasi ( organization ).
Perubahan nilai dan sikap dalam rangka
mengautisipasi masa depan haruslah diupayakan sedemikian rupa sehingga dapat di
wujudkan keseimbangan dan keserasian antara aspek pelestarian dan aspek
pembaruan. Nilai 2u luhur yang mendasari kepribadian dankebudayaan Indonesia
seyogianya akan tetap di lestarikan, agar terhindar dari krisis identitas.
b. Pengembangan Kebudayaan
Salah satu upaya penting
dalam mengantisipasi masa depan adalah upaya yang berkaitan dengan pengembangan
kebudayaan dalam arti luas, yaitu termasuk hal – hal yang berkaitan dengan
sarana kehidupan manusia. Kebudayaan mencakup unsur – unsur mulai dari sistem religi,
kemasyarakatan, pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencaharian, sampai dengan
sistem teknologi dan peralatan.
Unsur – unsur tersebut
paling mudah menerima pengaruh bukan hanya budaya setempat tetapi juga budaya
dunia. Maka dari itu dalam menghadapi berbagai pengaruh tersebut setiap
individu diharapkan dapat menyelaraskan dengan baik agar dapat menyesuaikan
diri dengan dunia yang selalu berubah tersebut dengan berhasil.
Dalam hal sejarah tercatat
bagaimana puncak kebudayaan pada suatu wilayah tertentu akan mempengaruhi
kebudayaan lain di dunia lain. Berkaitan dengan hal itu UNESCO telah menetapkan
konsep Dasawarsa Kebudayaan Sedunia yang menekankan bahwa pengembangan
kebudayaan dunia masa kini harus meliputi 4 dimensi, yakni :
- Afirmasi (penegasan dimensi budaya dalam proses pembangunan).
- Mereafirmasi dan mengembangkan identitas budaya.
- Partisipasi.
- Memajukan kerja sama budaya antar bangsa.
Pelestarian nilai – nilai luhur Pancasila sebagai
inti ketahanan budaya bangsa tersebut menjadi acuan pokok dalam memilih segala
pengaruh yang datang agar tidak terjadi kritis identitas bangsa Indonesia.
Peranan pendidikan merupakan faktor penentu dalam membangun dan memperkuat
ketahanan budaya tersebut.
c. Pengembangan Sarana Pendidikan
Pengembangan sarana pendidikan
sebagai salah satu prasyarat utama untuk menjemput masa depan dengan segala
kesempatan dan tantangannya. Menjelang pelaksanaan PJP II, sector pendidikan
telah meletakkan kerangka dasar pengembangannya melalui UU RI No. 2 tahun 1989.
Dasar perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia di masa yang akan
datang juga di atur dalam Undang – undang, 1992 : 27.
Meskipun Menteri Dikbud yang
bertanggung jawab atas bidang pendidikan nasional akan tetapi
penyelenggaraannya tersebar di berbagai lembaga pendidikan baik jalur sekolah
atau di luar sekolah, serta dikelola berbagai pihak (Dekdikbud, pemerintah
non-departemen, dan masyarakat). Kebijakan penting menjelang PJP II tersebut
adalah yang berkaitan dengan pendidikan dasar yaitu dari 6 tahun menjadi 9 tahun
serta kualifikasi awal guru SD dari SPG dan sederajat menjadi pendidikan tinggi
(D2 dan Sarjana).
Wajib belajar 9 tahun
merupakan kebijakan awal yang akan bermuara pada peningkatan SDM, yaitu manusia
Indonesia yang mampu “think globally but act locally” (Mochtar Buchari, 1990
:17) ke arah peningkatan mutu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, dan
terbentuknya masyarakat terdidik yang mampu terus belajar mandiri.
Secara tradisional,
permasalahan pendidikan di Indonesia adalah masalah – masalah kuantitas,
kualitas, pemerataan, dan relevansi. Namun masalah tersebut dapat diupayakan
melalui PJP I dan PJP II. Khusus untuk menyongsong era globalisasi yang makin
tidak terbendung, terdapat beberapa hal yanbg secara khusus memerlukan
perhatian dalam bidang pendidikan. Santoso S. Hamijaya (1990 : 33) mengemukakan
5 strategi dalam era globalisasi, yakni :
1. pendidikan untuk
pengembangan IPTEK
2. pendidikan untuk
pengembangan keterampilan manajemen
3. pendidikan untuk
pengelolaan kependudukan, lingkungan, dan kesehatan
4. pendidikan untuk
pengembangan sistem nilai, termasuk filsafat, agama, dan ideologi
5. pendidikan untuk
mempertinggi mutu tenaga kependidikan dan kepelatihan
Khusus untuk pendidikan tinggi, terdapat
kecenderungan berkembangnya pola pemecahan masalah secara multidisiplin. Oleh
karena itu, diperlukan suatu program pendidikan yang kuat dalam dasar keahlian
yang akan memperluas wawasan keilmuan dan membuka peluang kerja sama dengan
bidang keahlian lainnya.
BAB V
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
PENGERTIAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya
pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut.
LATAR BELAKANG
Tingkat kesadaran masyarakat terhadap pemberian
layanan pendidikan bagi anak sejak usia dini (0-6 tahun) masih sangat rendah.
Hal itu disebabkan antara lain karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat
tentang pentingnya pendidikan anak usia dini itu sendiri. Meskipun selama ini
pemerintah dan masyarakat telah menyelenggarakan berbagai program layanan
pendidikan bagi anak usia dini. Namun kenyataannya hingga saat ini masih banyak
anak usia dini yang belum memperoleh pendidikan, kata Gutama, Direktor
Pendidikan Anak Usia Dini Departemen Pendidikan Nasional, pada sosialisi
pendidikan anak usia dini bagi tokoh agama se-JABOTABEK di Jakarta.
Gutama menyebutkan, dari sekitar 26 juta anak usia
dini, baru sekitar 28 % yang tersentuh layanan pendidikan. Sosialisasi
pendidikan anak usia dini juga diakui belum menyentuh secara merata pada
lapisan masyarakat terbawah di tingkat kecamatan dan kabupaten atau kota.
Direktor Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan
Pemuda Fasli Jalal menyebutkan sejumlah masalah mendasar lainnya berkaitan
dengan pendidikan usia dini. Menurut Fasli, hingga saat ini belum ada sistem
yang bersifat holistik untuk menjamin keterpaduan dalam penanganan anak usia
dini. Masih banyaknya anak usia dini yang tidak tersentuh pendidikan apapun
juga disebabkan masih sangat tebatasnyajumlah tenaga pendidik dan kependidikan
untuk mereka. Hal itu diperburuk oleh relatif rendahnya kualitas tenaga yang
sudah ada. Fasli menambahkan bahawa faktor geografis dan kendala transportasi
juga menajdi masalah mendasar. Sebab anak-anak usia dini, yang sehrusnya
mendapat layanan pendidikan, berada di wilayah yang sangat terpencar. Bahkan,
sebagian berada di daerah yang sulit dijangkau karena kendala trasportasi.
“ketersediaan prasarana dan sarana pendidikan bagi anak usia dini juga masih
minim, terutama bagi mereka yang berusia di bawah 4 tahun” ungkap Fasli.
Menurut Fasli jumlah perguruan tinggi yang memiliki jurusan khusus pendidikan
anak usia dini pun masih terbatas. Adapun penelitian di bidang pendidikan usia
dini juga masih terbatas. Gutama menjelaskan, pihaknya telah mengembangkan
kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi berkaitan dengan pendidikan anak
usia dini tersebut diantaranya dengan universitas negeri Jakarta, Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Universitas Negeri Padang, Universitas
Negeri Makassar, dan Universitas Andalas ( Harian Kompas Rabu, 7 Januari 2004).
Salah satu misi pendidikan sebagimana dituangkan
dalam penjelasan UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, adalah
membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak
lahir sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. Misi ini
dijabarkan dalam pasal 28 ayat (1-6), yang membahas lebih detil tentang
pendidikan anak dini usia (PADU), pasal 28 (1) UU No 20 tahun 2003 ini
menyebutkan penyelenggaraan PADU adalah bagi anak sejak lahir sampai usia 6
tahun dan bukan merupakan persyaratan untuk mengikuti pendidikan dasar.
Berdasarkan ketentuan itu, direktorat PADU dirjen pendidikan luar sekolah
pemuda (PLSP) depdiknas memberikan pengertian PADU adalah pendidikan yang
ditujukan pada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun yang diselenggarakan di
jalur nonformal dalam bentuk Taman Penitipan Anak, Taman Bermain, dan Satuan
PADU sejenis, guna mempersiapkan tumbuh kembang anak secara optimal agar anak
siap memasuki jenjang pendidikan dasar. PADU memiliki misi yang sangat penting
yaitu mengupayakan pemerataan pelayanan peningkatan mutu dan efisiensi
penyelenggaraan pendidikan dini. Selain itu, PADU mengemban MISI meningkatkan kesadaran dan kemampuan
masyarakat dalam memberikan pelayanan pendidikan pada usia dini. Anak usia dini
merupakan aset sangat vital bagi negara untuk melangsungkan khidupan sebuah
bangsa, karena anak adalah penerus generasi. Pengasuhan dan pendidikan anak
saat ini dituntut lebih baik, karena tantangan zaman sekarang jauh lebih berat
dibanding tantangan yang dialami orang tua terdahulu. Untuk menjadikan bangsa yang dapat survival dan
eksis berkarya dalam percaturan dunia, generasi mudanya harus benar-benar
teruji dan tahan banting. Sekarang, anak-anak kita hidup di abad modern dimana
di segala bidang diperlukan orang yang tidak hanya memiliki kepintaran tetapi
juga kecerdasan. Kecerdasan bukan hanya didapat dibangku sekolah, tetapi lebih
pada pengalaman. Dalam program PADU yang holistik hal itu yang diutamakan.
Karena kecerdasan bukan hanya IQ, EQ, dan SQtetapi ada 9 kecerdasan lain.
Seperti dikemukakan Gardner, 9 kecerdasan itu adalah visual atau spesial;
verbal, musik, kinestetis, logis/matematis. Interpersonal, intrapesonal,
naturalis, eksistensial/karisma diri. Untuk mendapatkan kecerdasan tentu tidak
hanya dengan belajar tetapi juga dari bermain. Dalam bermain, anak memperoleh
banyak pengalaman yang sangat berguna. Seperti disampaikan Drs. H. Anta Sukma
kasubdin, PLSP provinsi Kal-Sel, pada pembukaan diklat menggambar untuk guru TK
di Banjarmasin pada 6-8 Juni 2005.ia mengatakan, kecerdasan anak akan tergali
melalui kegiatan bermain dan belajar yang menghasilkan pengalaman. Terlebih
pada kegiatan menggambar. Dalam menggambar segala imajinasi anak dapat
terapresiasi. Bila segala potensi yang dimiliki anak dapat dikembankan sesuai
konsep tumbuh kembang anak maka anak akan kaya pengalaman, dan pengalaman
adalah guru yang paling baik. Anak yang kaya pengalaman, kelak dewasa akan jadi
orang yang berkepribadian tangguh dan andal, mampu menghadapi segala tantang
zaman. Manusia sejak dalam rahim ibunya, oleh Tuhan dibekali struktur otak yang
lengkap baik neuron sel glia dan synap yang sama banyaknya tidak dikurangi atau
dilebihkan. Selain itu diberi kemampuan untuk belajar, kreatif dan produktif
yang tidak tebatas. Setiap anak berpeluang sama untuk menjadi jenius, sepanjang
pemberian stimulus pada otak dilakukan sejak dini. Bila stimulus diberikan
dengan benar, maka terjadi percepatan yang besar dalam proses melekatnya neuron
melalui sel glia untuk membentuk synap. Kecepatan sambungan antar synap ini
yang menyebabkan anak menjadi jenius. Disamping itu anak usia dini merupakan
masa kriti, terutama dari segi gizi, kesehatan dan spikologi. Oleh karena itu,
kebutuhan tumbuh kembang anak mencakup kebutuhan gizi seimbang, kesehatan,
pendidikan dan spikososial. Kebutuhan
itu merupakan satu kesatuan yang utuh untuk dikembangkan pada masa usia balita
tersebut. Dapat disimpulkan betapa pentingnya program PADU untuk
ditumbuhkembangkan dalam pembinaan anak.
PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Kesadaran tentang pentingnya pendidikan usia dini
memang cukup mengemuka dewasa ini, setelah berbagai penelitian di bidang
kesehatan dan psikologi berkesimpulan bahwa sejak masa kehamilan hingga
prasekolah merupakan masa yang sangat penting bagi pembentukan kecerdasan serta
karakter anak. Apa yang diterima atau yang terjadi pada anak usia dini akan
mendasar sekaligus melandasi kehidupan anak pada usia dewasa. Berbagai pakar
terkemuka mengatakan masa yang paling penting dalam hidup, yaitu sejak mulai
lahir sampai usia 6 tahun karena masa ini kecerdasan anak dibentuk. Jadi para
ahli menamakannya sebagai “Periode Emas” atau masa penentuan untuk pertumbuhan
anak. Peningkatan kesadaran akan pentingnya anak usia dini lebih berkembang di
kalangan masyarakat perkotaan.
Rasulullah SAW bersabda “ Utlubul ilma minal
mahdi ilal lakhdi” yang artinya “Tuntutlah ilmu dari buayan sampai ke
liang lahat”. Hadis tersebut menekankan betapa pentingnya seseorang belajar
sedini mungkin. tentu kesadaran akan perlunya belajar sejak usia dini ini tidak
muncul dari si bayi yang belum bisa apa-apa, namun dimulai dari kesadaran orang
tuanya untuk memberikan pembelajaran-pembelajaran kepada anaknya sejak dini.
Karena pada dasarnya, ketika seorang manusia telah terlahir ke dunia ini ia
telah dilengkapi berbagai perangkat seperti panca indera dan akal untuk
menyerap berbagai ilmu. Inilah peletak dasar pentingnya pendidikan anak usai
dini. Sejak dini anak harus diberikan berbagi ilmu (dalam bentuk berbagai
rangsangan/stimulan). Mendidik anak pada usia dini ibarat membentuk ukiran di
batu yang tidak akan mudah hilang bahkan akan membekas selamanya. Artinya
pendidikan pada usia dinia akan sangat membekas hingga anak dewasa. pendidikan
pada usia dini ini adalah peletak dasar bagi pendidikan anak selanjutnya.
Keberhasilan pendidikan usia dini ini sangat berperan besar bagi keberhasilan
anak di masa-masa selanjutnya. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan
masyarakat dalam meningkatkan akses pelayanan pendidikan anak usia dini terus
dilakukan, namun data membuktikan dari 28 juta anak anak usia 0-6 tahun
sebanyak 73% atau sekitar 20,4 juta anak belum mendaptkan layanan pendidikan,
baik secara formal maupun nonformal. Khusus anak usia prasekolah akses layanan
pendidikan anak usia dini amsih rendah (sekitar 20.0%) artinya sebanyak 80.0%
lainnya belum terlayani di pusat-pusat pendidikan anak usai dini. Kesenjangan
antara pedesaan dan perkotaan juga terjadi. Hasil yang serupa juga ditemui pada
penelitian yang dilakukan oleh Yuliana dkk, dipenghujung tahun 2004 dan awal
tahun 2005 di pulau Jawa, bahwa sebagian besar (86,3% di pedesaan dan 73,2% di
perkotaan) anak usia pra sekolah belum mengakses program-program pendidikan
yang ada baik di jalur formal maupun nonformal. Penyebabnya karena masih kurangnya sarana dan
prasarana pendidikan khusus untuk usia dini. Selain itu mahalnya biaya
pendidikan, semakin menyulitkan anak-anak untuk mendapatkan kesempatan belajar
terutama untukanak usia dini. Masyarakat seara umum tidak mampu menjangkaunya.
Sebagai contoh ada sekolah di Jakarta menarik uang pendaftaran untuk jenjang
pra sekolah Rp 15 juta di luar uang bulanan Rp 1 juta. Dengan biaya sebesar itu
tentunya hanya anak-anak dari kalangan tertentu saja yang mendapatkan
kesempatan yang memperoleh pendidikan yang bermutu. Padahal keberlangsungan pendidikan
untuk anak usia dini tidak harus dilakukan dengan memasukkan mereka ke dalam
lembaga pendidikan. Ibu, adalah SDM yang sangat berpotensial untuk menajdi guru
bagi anak-anka usia dini. Ibu memiliki interaksi kuat dengan anak, karena
dialah orang yang pertama kali menjalin interaksi ; memahami dan selalu
mengikuti seluruh aspek tumbuh kembang anak tanpa ada yang terlewat. Ibu adalah
orang pertama yang menjadi teladan bagi anak, karena dialah orang yang terdekat
anak. Ibulah yang mampu meneapkan prinsip belajar untuk diterapkan, karena ia
yang paling banyak meiliki waktu bersama anak. Ibu adalah yang paling berambisi
menyiapkan anak yang soleh, karena baginya hal terebut menajdi investasi
terbesar untuk akhirat. Akhirnya, memang hanya ibu yang memiliki peluang
terbesar mendidik anak dengan penuh ketulusan, kasih sayang dan pengorbanan
yang sempurna. Peluang ibu menjadi guru bagi anak usia dini sangat besar
sekali. Masih banyak ibu-ibu yang ada di negeri ini tidak bekerja dan mengurus
anak-anaknya secara langsung. Bila ibu yang menjadi guru makan biaya pendidkan
yang dikeluarkan tidaklah besar, karena ibu yang menjalankan perannya sebagai
pendidik dilakukan di dalam rumah dengan waktu yang diseuaikan dengan kondisi
anak dan ibu. Berbeda dengan memasukkan anak ke dalam sekolah, mereka terikat
dengan jadwal belajar tertentu. Ibu pun harus mengeluarkan biaya yang mahal.
Menjadikan ibu sebagai guru dan melaksanakan proses pendidikan dengan metode
kelompok belajar bersama di rumah itulah yang dijalankan dalam program Ibuku
Guruku kami dengan metode homeschooling group. Mengapa Pendidikan Anak Usia
Dini dilakukan di rumah? Rumah merupakan lingkungan terdekat anak dan tempat
belajar yang paling baik untuk anak. Di rumah anak bisa belajar selaras dengan
keinginannya sendiri. Ia tak perlu duduk menunggu sampai bel berbunyi, tidak
perlu harus bersaing dengan anak-anak lain, tidak perlu harus ketakutan
menjawab salah di depan kelas dan bisa langsung mendapatkan penghargaan atau
pembetulan kalau membuat kesalahan. Di sinilah peran ibu menjadi sangat peting,
karena tugas utama ibu sebetulnya adalah pengatur rumah tangga dan pendidikan
anak. Di dalam rumah banyak sekali sarana-sarana yang bisa dipakai untuk
pembelajaran anak. Anak dapat belajar banyak sekali konsep tentang benda,
warna, bentuk dan sebagainya sembari ibu memasak di dapur. Anak juga dapat
mengenal ciptaaan Tuhan melalui berbagai macam makhluk hidup yang ada di
sekitar rumah, mendengarkan ibu membaca do’a-do’a, dalam suasana yang nyaman
dan menyenangkan. Oleh sebab itu rumah merupakan lingkungan yang tepat dalam
menyelenggarakan pendidikan untuk anak usia dini seperti yang dilakukan semasa
pemerintah Islam, bahwa pendidikan untuk anak-anak di bawah 7 tahun dibimbing
langsung oleh orang tuanya. Metode homeschooling group ini dapat diakses oleh
seluruh lapisan masyarakat Karena dalam pelaksanaannya bersifat dinamis, dapat
bervariasi sesuai dengan keadaan sosial ekonomi orangtua. Ketelibatan
orangtua/ibu dalam homeschooling group sangat dominan dan jarak tempuh anak ke
kelompok-kelompok homeschooling dapat ditempuh anak dengan berjalan kaki
(maksimal 1 km). Hal demikian menjadikan keunggulan dari homeschooling
(murah, ibu dekat dengan anak dan dinamis). Mengapa harus dalam bentuk grup atau kelompok? Hal tersebut bertujuan untuk menanamkan konsep sosialisasi pada anak, membangun persaudaraan di kalangan ibu di samping dapat meringankan beban ibu dan upaya memperbaiki lingkungan masyarakat. Kurikulum homeschooling group diharapkan dapat mencerminkan kegiatan untuk membangun kemampuan kepribadian anak dan membangun kemampuan keterampilan sainteks (kognitif, bahasa, motorik kasar, motorik halus, seni, kemandirian dan sosial emosional). Kehiatan tersebut dilakukan dengan metode pengajaran bermain sambil belajar melalui keteladanan, mendengar, mengucapkan, bercerita dan pembiasaan. Pendekatan pembelajaran dalam home schooling group haruslah berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak, kebutuhan anak menggunakan pendekatan tematik, kreatif dan inovatif, lingkungan kondusif dan mengembangkan kemampuan hidup. Peran ibu sebagai pendidikan pertama dan utama, tidak hanya dalam rangka mendidikan anak-anak nya semata. Hal ini disebabkan anak-anaknya berinteraksi dengan anak orang lain di lingkungannya. Anak kita membutuhkan teman untuk belajar bersosialisasi dan berlatih menjadi pemimpin. Kesadaran kita sebagai seorang yang peduli dengan kondisi masyarakatnya akan menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk turut mendidik anak-anak lain sebagai generasi penerus. Sehingga ibu tidak cukup mendidik anak sendiri tetapi juga perlu mendidik anak-anak lainnyaibunya yang ada di lingkungannya. Kesamaan visi dan misi dalam mendidika anak di kalanan orang tua sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan aktivitas belajar yang efektif dan efisien seringkali selama ini orang tua menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan pendidikan anak-anak (termasuk usia dini) kepada sekolah dan guru. Seharusnya orang tua menyadari bahwa kewajiban untuk mendidik anak tidaklah hilang dengan menyekolahkan mereka. Orang tua perlu meningkatkan proses belajar di sekolah dengan di rumah sehingga target pendidikan dapat dicapai. Menjadi guru bagi anak-anak usia dini, tidaklah berarti ibu mendidik anaknya secara individual, namun dapat dilakukan secara berkelompok dengan melibatkan para orang tua (ibu) yang ada di sekitar lingkungannya menjadi tim pengajar (guru). Sistem kelompok belajar dalam bentuk grup, selain menumbuhkan kebersamaan dan melatih anak dalam bersosialisasi juga menyuburkan persaudaraan dan kedekatan di antara orang tua sehingga memudahkan memberikan memberikan penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dari anak-anak tersbut. Dengan demikian anak-anak usia dini mendapatkan pelajaran dalam bentuk kelompok dan akan melanjutkan pelajaran di rumah bersama ibunya masing-masing.
(murah, ibu dekat dengan anak dan dinamis). Mengapa harus dalam bentuk grup atau kelompok? Hal tersebut bertujuan untuk menanamkan konsep sosialisasi pada anak, membangun persaudaraan di kalangan ibu di samping dapat meringankan beban ibu dan upaya memperbaiki lingkungan masyarakat. Kurikulum homeschooling group diharapkan dapat mencerminkan kegiatan untuk membangun kemampuan kepribadian anak dan membangun kemampuan keterampilan sainteks (kognitif, bahasa, motorik kasar, motorik halus, seni, kemandirian dan sosial emosional). Kehiatan tersebut dilakukan dengan metode pengajaran bermain sambil belajar melalui keteladanan, mendengar, mengucapkan, bercerita dan pembiasaan. Pendekatan pembelajaran dalam home schooling group haruslah berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak, kebutuhan anak menggunakan pendekatan tematik, kreatif dan inovatif, lingkungan kondusif dan mengembangkan kemampuan hidup. Peran ibu sebagai pendidikan pertama dan utama, tidak hanya dalam rangka mendidikan anak-anak nya semata. Hal ini disebabkan anak-anaknya berinteraksi dengan anak orang lain di lingkungannya. Anak kita membutuhkan teman untuk belajar bersosialisasi dan berlatih menjadi pemimpin. Kesadaran kita sebagai seorang yang peduli dengan kondisi masyarakatnya akan menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk turut mendidik anak-anak lain sebagai generasi penerus. Sehingga ibu tidak cukup mendidik anak sendiri tetapi juga perlu mendidik anak-anak lainnyaibunya yang ada di lingkungannya. Kesamaan visi dan misi dalam mendidika anak di kalanan orang tua sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan aktivitas belajar yang efektif dan efisien seringkali selama ini orang tua menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan pendidikan anak-anak (termasuk usia dini) kepada sekolah dan guru. Seharusnya orang tua menyadari bahwa kewajiban untuk mendidik anak tidaklah hilang dengan menyekolahkan mereka. Orang tua perlu meningkatkan proses belajar di sekolah dengan di rumah sehingga target pendidikan dapat dicapai. Menjadi guru bagi anak-anak usia dini, tidaklah berarti ibu mendidik anaknya secara individual, namun dapat dilakukan secara berkelompok dengan melibatkan para orang tua (ibu) yang ada di sekitar lingkungannya menjadi tim pengajar (guru). Sistem kelompok belajar dalam bentuk grup, selain menumbuhkan kebersamaan dan melatih anak dalam bersosialisasi juga menyuburkan persaudaraan dan kedekatan di antara orang tua sehingga memudahkan memberikan memberikan penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dari anak-anak tersbut. Dengan demikian anak-anak usia dini mendapatkan pelajaran dalam bentuk kelompok dan akan melanjutkan pelajaran di rumah bersama ibunya masing-masing.
TAHAP PERTAMA YANG MENENTUKAN
Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan anak
dini usia merupakan langkah strategis dalam menyiapkan generasi muda yang
dimulai sejak dini usia sebagai generasi penerus yang akan menentukan masa depan
bangsa. Usia dibawah lima tahun (balita) adalah usia yang paling kritis/paling
menentukan dalam pembentukan karakter dan juga kepribadian seseorang. Termasuk
juga pengembangan intelegensi hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah lima
tahun. Kalau seseorang sudah terlanjur menjadi pencuri atau penjahat, maka
pendidikan universitas bagi orang tersebut boleh dikatakan tidak berarti
apa-apa. Sebagaimana halnya sebatang pohon bambu, setelah tua susah
dibengkokkan. Anak-anak pada usia di bawah lima tahun memiliki intelegensi
laten (potential intelegence) yang luar biasa. Namun pada umumnya para orang
tua dan guru hanya bisa mengajarkan sedikit hal pada anak-anak sesunguhnya
anak-anak usia muda tidak complicated (ruwet) dalam belajar, tetapi orang tua atau
guru yang bermasalah. Pada umumnya kita selalu menyalahkan anak-anak apabila
tingkah laku mereka tidak seperti yang kita inginkan. Hal ini lebih banyak
disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman kita terhadap
perkembangan jiwa anak, sehingga kita sering memperlakukannya dengan tidak
/kurang tepat. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan
kemampuanuntuk menyerap informasi sangat tinggi. Kebanyakan orang tidak
mengenali dan memahami kemampuan “Magic” yang ada pada anak-anak. Mereka hanya
bias berkata “saya tahu anak-anak belajar lebih cepat”, tetapi mereka tidak
tahu seberapa cepat anak-anak bias belajar. Karena keterbatasan pengetahuan dan
kemampuan orang tua dan guru-guru maka potensi luar biasa yang ada pada setiap
anak sebagian besar tersia-siakan.
Umumnya orang siap mengorbankan waktu
bertahun-tahun dan uang berjuta-juta rupiah untuk menempuh pendidikan di
perguruan tinggi ; untuk apa?–untuk mendapatkan sedikit tambahan intelegensi,
karena sedikitnya kemampuan sel-sel otak yang tersisa. Sebaliknya orang kurang
memperhatikan pendidikan anak-anak pada usia muda. Anak-anak usia belia
memiliki bermilyar-milyar sel-sel saraf otak yang sedang berkembang dan
memiliki kemampuan yang dahsyat serta daya memori yang kuat maka pendidikan yang
menanamkan nilai-nilai luhur kemanusiaan (pengembangan intelegensi/kecerdasan,
karakter, kreativitas, moral, dan kasih sayang universal) sangatlah perlu
diberikan pada anak-anak sejak usia muda,oleh karena itu pendidikan Pre-School
dan taman kanak-kanak tidak boleh dianggap sepele dan diabaikan. Bahkan
pendidikan bayi sejak usia 0 tahun (baru lahir) atau bahkan sejak bayi masih
dalam kandungan sudah saatnya dikembangkan. Guru-guru dan fasilitas yang
terbaik semestinya diprioritaskan pada lembaga pendidikan kanak-kanak. Dedikasi
yang tulus dari guru-guru dan dukungan sepenuhnya dari orang tua anak akan
menjamin keberhasilan pendidikan anak-anak. Kerjasama yang baik antara guru dan
orang tua anak sangat diperlukan.
Hasil penelitian neurologi dan kajian pendidikan
anak-usia dini cukup memberikan bukti betapa pentingnya stimulasi sejak usia
dini dalam mengoptimalkan seluruh potensi anak guna mewujudkan generasi
mendatang yang berkualitas dan mampu bersaing dalam percaturan dunia yang
mengglobal pada milenium ketiga ini.
KONSEP PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI
Perkembangan pada anak dimulai dengan adanya
diferensiasi baru pada anak baik jasmani maupun rohani. Konsep
pengembangan anak usia dini adalah adalah :
a. Tahap perkembangan
pre-natal (2,5 bulan s.d 9 bulan pre-natal)
Organ tubuh mengalami individuasi dan
diferensiasi. Perkembangan ini lebih bersifat pematangan fungsi saraf serta
refleks untuk menggerakkan tubuh insan bayi.
b. Tahap perkembangan vital
(sejak lahir s.d 2 tahun)
Anak lahir dengan menangis dan ketidakberdayaan
lainnya. Perkembangan selanjutnya anak dapat menggerakkan beberapa angota
badannya dan inderanya mulai berfungsi.
c. Tahap perkembangan
ingatan (2 s.d 3 tahun)
Disebabkan fungsi pengamatan yang sudah mau
menerima kesan-kesan sehingga ia mampu menampung hasil pengamatannya. Contoh : anak mengingat peristiwa ketika
ibu menyodorkan sendok makan kepadanya dan lain-lain.
d. Tahap perkembangan
kekuan dan imajinasi (3 s.d 4 tahun)
Anak mulai menyadari merupakan
kepetingan-kepentingan dan harus mendapat pengakuan dan penghargaan orang lain.
Ia ingin diperhatikan. Anak suka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
keinginan orang lain. Imajinasi anak mulai berkembang sehingga ia sering
berkhayal.
e. Tahap perkembangan pengamatan (4-6 tahun)
Pengenalan anak kepada alam semakin meluas dan
terarah. Anak mulai suka mempelajari seluk beluk alam, melihat gerak-gerik dan
gambar-gambar.
f. Tahap perkembangan
intelektual (6/7 tahun s.d 12/13 tahun)
Dimulai ketika anak sudah memiliki perkembangan
fungsi pikiran biasanya disertai dengan perkembangan bahasa. Ini
meliputi :
a. Masa siap sekolah. Seperti dikemukakan di atas.
b. Masa anak bersekolah (7-12 tahun)
Kritis, ingin
tahu, pada mur 1 tahun suka minta bantuan orang dewasa dalam menyelesaikan
tugasnya, setelah berumur 11 tahun mulai bersikap mandiri, mendambakan nilai
yang tinggi tanpa memikirkan tingkat prestasi belajar, suka berkelompok dengan
teman-temannya.
c. Masa pueral (11/12 tahun)
Harga diri kuat, berkuasa, dan suka bersaing.
PENDEKATAN HOLISTIK
Pengasuhan dan pengembangan anak dini usia sangat
tergantung pada konsep pendekatan yang digunakan. Pendekatan yang paling tepat
adalah pendekatan holistik (menyeluruh). Dengan pendekatan holistik diharapkan
mampu mengembangkan potensi anak dari berbagai aspek, baik aspek fisik,
mental maupun intelektual dan moral sosial.
Dalam strategi, penerapannuya bisa dilakukan secara terintegrasi, parsial dan
sektoral. Selain itu, implementasi PADU perlu memperhatikan faktor lingkungan
yang kondusif untuk pengasuhan dan pengembangan anak baik di lingkungan mikro
(TPA, playgroup dan lain-lain). Maupun lingkungan makro (tempat tinggal). PADU
dengan pendekatan holistik di dalamnya menyangkut hak anak untuk bermain dan
melakukan kegiatan yang merangsang seluruh aspek perkembangan potensi anak.
Aspek itu mencakup pemeliharaan kesehatan, pemberian nutrisi yang seimbang,
stimulasi intelektual dan memberikan kesempatan luas kepada anak untuk
mengeksplorasi dunianya melalui belajar sambil bermain. Dengan belajar dan
bermain anak secara aktif memacu pengembangan sosial dan emosionalnya,
pengasuhan dan bimbingan untuk memahami potensi diri anak. PADU dengan visi
terwujudnya anak dini usia yang sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia,
berpotensi dapat meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia. Kendala terbesar
yang dihadapi dalam menjalankan program PADU selama ini adalah kurangnya
perhatian pemerintah khususnnya Pemda di untuk merespon positif PADU. Hal ini
terungkap pada sosialisasi PADU wilayah Timur pada beberapa waktu lalu di Mataram
NTB. Dan itu tidak hanya terjadi di satu dua provinsi, tetapi hampir di seluruh
tanah air kita. Padahal, jika Pemda menangani dengan serius bukan tidak mungkin
problem anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang yang meliputi kemampuan
verbal, intelektual dan spikomotorik sebanyak 10-30% dari jumlah keseluruhan
anak dapat diatasi. Kurangnya perhatian selama ini, tidak semuanya kesalahan
pemerintah. Rendahnya pengetahuan orang tua dan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya PADU ditambah kurangnya keterampilan dan pemahaman pendidik terhadap
konsep PADU serta rendahnya mutu pendidik juga menjadi masalah. Seandainya
peemrintah antusias dalam menangani masalah ini, tentu akan dapat mengatasi
masalah tingginya angka tinggal kelas di SD yakni 13% dari seluruh anak SD.
Direktur PADU Ditjen PLSP Depdiknas, Gutama mengimbau pengambil kebijakan di
daerah melalui ketua TP PKK di daerah agar memberikan perhatian yang besar
terhadap masalah pendidikan dini usia. Sebenarnya, penguasa daerah adalah pilar
utama dalam pengembangan PADU di daerahnya yang diprakarsai oleh TP PKK dengan
kegiatan posyandu, bina keluarga balita. Kader PKK merupakan ujung tombak dalam
mengembangkan programPADU. Namun, selamaini pengeambil kebijakan di daerah baik
kepal daerah, dinas terkait maupun legilatif tidak begitu peduli terhadap
masalah anak usia dini. Seharusnya dalam setiap kegiatan PADU, Ditjen PLSP dan
instansi terkait tidak hanya mengikutkan isteri kepala daerah tetapi juga
gubernur, bupati, walikota dan anggota dewan di daerah. Selanjutnya mereka
dapat memberi perhatian kepada program PADU melalui penyediaan anggaran khusus
untuk kelancaran pengembangan PADU di daerahnya. Selama ini, mutu pendidikan di
negara kita sangat jauh tertinggal dibanding negara tetangga seperti Singapura,
Brunei Darussalam, Malaysia bahkan Vietnam. Menurut penelitian Internasional
Education Achievement (IEA) pada 1999, kemampuan membaca siswa SD di Indonesia
berada ada urutan ke-38 dari 39 negara yang diteliti.
Menurut data tahun 2001, dari 26,1 juta anak yang
ada di Indonesia baru 7,1 juta atau sekitar 25% anak yang telah mendapatkan
pendidikan terdiri atas 9,6% terlayani di Bina Keluarga di bawah 5 tahun, 6,5%
di Taman Kanak- Kanak, 1,4 Raudatul Atfhal, 0,13% di Kelompok Bermain, 0,5% di
Tempat Penitipan Anak lainnya, 9,9% terlayani di Sekolah Dasar. Ini
menunjukkan, pentingnya pendidikan usia dini belum mendaptkan perhatian dengan
baik. Kemampuan ekonomi menajdi salah satu faktor penyebab dari terhambatnya
pendidikan anak usia dini, sedikitnya pendekatan dan naiknya harga kebutuhan
pokok mengharuskan kaum ibu ikut bekerja memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ini yang menyebabkan perhatian akan pendidikan anak usia dini terbengkalai.
Pendidikan usia dini juga kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Rancangan
Peraturan Pemerintah Tentang Pendidikan Anak Usai Dini (RPP PAUD) yang mengatur
pendidikan usia dini, ternyata belum terlaksana dengan baik. Contoh,
terbatasnya jumlah lembaga pendidikan atau program layanan pendidikan anak usia
dini. Lembaga yang sudah adapun hanya berstatus lembaga swasta dengan biaya
yang relatif mahal, sehingga tidak semua lapisan masyarakat dapat merasakan
pendidikan usai dini. Kendala lain, lembaga pendidikan itu tidak meiliki
program yang terstruktur, dalam arti tidak adanya keterpaduan antara
pendidikan, layanan gizi, perawatan atau pengasuhan, serta kesehatan. Di negara lain pendidikan anak usia dini
mendapatkan perhatian dari pemerintah. Seperti halnya di Singapura dan Korea
Selatan, hampir seluruh anak-anak usia dini telah mendapatkan pendidikan. Human
Development Index (HDI) atau tingkat pengembangan sumber daya manusia kedua
negara itu jauh di atas Indonesia. Singapura peringkat ke-25 Korea Selatan ke-27 sedangkan Indonesia hanya
berada diperingkat 110 dari 173 negara. Masalah itu agar mendapatkan perhatian
dari pemerintah, masyarakat dan instansi lainnya. Lembaga pendidikan usia dini
agar mendapat prioritas dari pemerintah tidak hanya dari pengadaan sarana tapi
juga kurikulum dan program yang terstruktur. Faktor ekonomi adalah salah satu
yang menjadi penyebab terhambatnya pendidikan. Pendidikan yang murah merupakan
salah satu cara agar pendidikan usia dini dapat menjangkau seluruh lapisan
masyarakat. Saat penunjang lain yang tak langsung ikut berpengaruh terhadap
pendidikan usia dini juga agar menjadi perhatian. Sarana kesehatan seperti
posyandu, berpengaruh terhadap peningkatan gizi anak, gizi mempengaruhi tingkat
kecerdasan anak atau IQ. Jika anak mendapatkan gizi yang buruk maka beresiko
kehilangan IQ 20-13 poin, kini jumlah anak yang kekurangan gizi mencapai 1,3
juta, berarti potensi kehilangan IQ anak di negara ini 22 juta poin. Organisasi
yang terkait dalam pemberdayaan yang berperan dalam pemberdayaan masyarakat
seperti organisasi pemberdayaan perempuan, keluarga atau anak perlu mengadakan
program yang menunjang bagi pemecahan masalah itu. Organisasi itu agar dapat
memberikan pendidikan dan informasi kepada para orang tua dan masyarakat
tentang pentingnya pendidikan anak usia dini. Komponen lain yang paling
berpengaruh, keluarga dan masyarakat berperan penting dalam pertumbuhan
karakter dan kepribadian anak. Karena itu, keluarga dan masyarakat harus dapat
memberikan contoh baik, karena pada dasarnya seorang anak akan senantiasa
mengikuti atau mencontoh orang di sekitarnya. Orang tua pun harus mengembangkan
potensi diri dengan cara memperkaya ilmu pengetahuan dan informasi, melalui
media masa ataupun media elektronik. Terutama informasi dan ilmu pengetahuan
terkini, sehingga orang tua bisa menjadi pusat informasi (tempat bertanya yang
baik bagi anak). Pendidikan anak usai dini dapat berjalan secara baik jika
semua pihak dapat saling bekerjasama.
IJIN COPY MATERINYA BANG
BalasHapuspak, materinya saya copi ya... terima kasih pak...
BalasHapusizin copy ya mas. trims
BalasHapusizin copy ya..trims
BalasHapusIZIN COPY
BalasHapusIzin copy ya..
BalasHapusIzin copy ya
BalasHapusIjin copy
BalasHapusijin copy materi kak
BalasHapusIzin copy kak
BalasHapusIjin copy kak, makasih
BalasHapusijin copy pak
BalasHapusIzin copy ya kak,
BalasHapus